Wujudkan Mimpimu

Saat menerima Majalah Pesona edisi Januari 2012 dan membaca temanya, hati saya langsung tergerak ingin membaginya kepada Anda, khususnya teman-teman seperjuangan di d’BC Network.

Temanya yang bertajuk “wujudkan mimpi” pas banget untuk membangkitkan motivasi bagi saya sebagai pelaku bisnis jaringan atau multi level marketing dalam mencapai tujuan.

Disebutkan dalam artikel bahwa tidak ada batas bagi seseorang untuk bermimpi. Semua orang dengan tidak memandang status sosial, latar belakang budaya, tua dan muda, atau laki dan perempuan, bebas untuk bermimpi.

Saat kita kecil, kita berani menggantungkan mimpi setinggi langit. Bebas berekespresi dan berkhayal tanpa batas sehingga memiliki mimpi yang terkadang tak masuk akal. Namun seiring dengan bertambahnya usia, tanpa disadari kita mulai menakar segala sesuatu dengan logika atau bersikap realistis.

Saat kita menuliskan keinginan untuk menjadi orang kaya atau sukses, maka logika kita langsung menyangkalnya.
“Ahh, mana bisa? Aku bukan keturunan pengusaha, aku ngga punya modal besar, ngga punya koneksi, bukan lulusan perguruan tinggi, cuma ibu rumah tangga. Mustahil jadi orang kaya.”

Tanpa disadari, logika, pengalaman hidup, dan pembelajaran dari lingkungan sering kali membatasi bahkan ‘membunuh’ daya imajinasi dan keberanian kita untuk bermimpi.

Kita tidak mau dibilang ambisius atau pemimpi karena punya angan-angan yang terlalu tinggi. Semakin dewasa kita justru lebih memusingkan apa kata orang ketimbang apa yang betul-betul kita inginkan.

Alhasil, kita lebih terbiasa bersikap realistis (kalau tidak mau dibilang skeptis) dalam mengangankan sesuatu. Bahkan, jika sudah berumur, kita merasa tak perlu lagi bermimpi. “Just let it flow saja,” begitu bahasa kerennya.

Saya jadi teringat pada diri sendiri. Saya baru menyadari belakangan bahwa menganggap semua berjalan seperti air mengalir itulah yang menyebabkan saya mengalami stagnasi bisnis di tahun 2011 yang lalu.

Tapi, seberapa besar kita boleh bermimpi?

Menurut Ellen Johnson Sirleaf, Presiden Liberia pemenang Nobel Perdamaian 2011, pernah berkata, “if your dream do not scare you, they are not big enough.”

Jadi, tetapkan impian setinggi mungkin sehingga kita merasa ‘merinding’ saat memikirkannya. Karena, kalau kita hanya mimpi biasa-biasa saja, maka daya dorongnya pun biasa saja. Tak cukup kuat untuk memompa semangat kita sampai ke tujuan.

Kalau sekarang Anda sudah mempunyai impian, berbahagialah karena ini berarti Anda sudah memulai langkah pertama untuk menjadi orang sukses. Tapi kalau saat ini Anda masih belum punya impian yang jelas, luangkan waktu sejenak untuk merenungkan suatu keinginan kuat yang mungkin sejak kecil Anda idamkan, namun terpendam dalam hati.

Yakinkan diri bahwa jika kita mengucapkan sebuah keinginan dengan hati terdalam, maka hukum alam akan bekerja seperti dalam teori Law of Attraction atau ‘Mestakung (Semesta Mendukung).

Tanpa disadari, kita akan ‘dipertemukan’ dengan orang-orang atau hal-hal yang mendekatkan kita pada impian tersebut. Tapi, tentunya kita tak boleh puas hanya dengan menjadi pemimpi. Karena, setiap mimpi perlu diikuti dengan langkah nyata dan komitemen untuk mewujudkannya.

Sumber bacaan: Majalah Pesona edisi Januari 2012

Leave a Reply