Belajar dari Pebisnis Tionghoa

Tulisan ini saya kutip dari artikel berjudul sama di Majalah Pesona edisi Februari 2011. Memang  edisi lama, namun tidak ada istilah basi untuk  berbagi pengetahuan bukan? Apalagi bila kita bisa mengambil pelajaran darinya.

Menurut pakar marketing Hermawan Kertajaya dari Mark Plus, faktor utama kesuksesan orang Tionghoa sebenarnya berawal dari faktor keterpaksaan. Entrepreneursiph itu muncul karena tidak ada jalan lain yang tersedia, sehingga daya juang mereka sangat tinggi karena itulah satu-satunya cara untuk bertahan hidup.

Selain faktor pendorong utama tersebut, Hermawan juga menyebutkan tiga nilai yang dipegang teguh oleh orang Tionghoa, yang ikut mendukung kesuksesan mereka sebagai pebisnis, yaitu:

1. Quang Shi, yaitu hubungan yang sangat erat dalam antar orang-orang Tionghoa. Ketika yang satu terlilit masalah, maka yang lain akan ikut membantu.

Misalnya, saat seorang pengusaha Tionghoa bangkrut dan tak punya modal lagi untuk memulai bisnis baru, pasti akan ada yang bersedia membantu, sekalipun usaha itu berpotensi rugi.

Selama orang yang diberi bantuan berlaku jujur dan tidak berbuat curang, maka teman atau saudaranya akan tetap membantu, meskipun dia sudah 2-3 kali bangkrut. Tapi jika sekali saja dia berbuat curang dan bohong, maka teman-teman dan kerabatnya akan berhenti menolong.

2. Wei-chi, yaitu optimis menghadapi krisis.  Wei artinya bahaya, sementara  chi artinya kesempatan. Jadi setiap kali krisis, ada dua hal yang harus dihadapi, yaitu melepaskan diri dari bahaya dan meraih kesempatan.

Orang Tionghoa selalu berpikir positif dalam menghadapi krisis dengan mengedepankan peluang yang ada dibanding kendalanya. Jadi mereka akan berusaha sekuat tenaga tanpa mengeluh untuk meraih kesempatan itu, sekecil apapun.

3. Mian-Zi artinya muka. Orang Tionghoa memegang prinsip, apapun yang terjadi jangan sampai ‘kehilagan muka’ alias harga diri. Misalnya, ia punya utang dan sudah jatuh tempo. Jika tak punya uang tunai, ia rela menjual asetnya untuk melunasi utang tersebut daripada harus kehilangan harga diri.

Inilah salah satu rahasia orang Tionghoa mudah mendapatkkan utang ketika mengajukan ke bank.

Tujuh Menguak Sukses

Selain ketiga nilai tersebut, masih ada sejumlah sikap dan kedisiplinan yang membuat orang Tionghoa tangguh dan kerap sukses dakam berdagang dan hartanya terus berkembang.

1. Terlibat sejak dini

Di kalangan pebisnis Tionghoa, melibatkan keluarga sejak dini adalah hal biasa, bahkan sejak bisnis berdiri dan anak berusia muda. Misalnya, bila seorang ayah membuka usaha rumah makan, maka anak-anaknya ditugaskan menjadi pelayan, sedangkan istri menjadi kasir. begitu anak-anak beranjak dewasa, mereka sudah menguasai seluk beluk bsinis di luar kepala dan menjalankannya tanpa canggung.

2. Administrasi dan pembukuan yang baik

Administrasi barang dan pembukuan penjualan yang baik adalah kekuatan lain dari para pebisnis Tionghoa. Adminsitrasi barang yang baik membuat stok barang selalu tersedia. Sangat jarang toko yang dijalankan pengusaha Tionghoa kehabisan stok barang. Sedangkan pembukuan yang baik membuat arus kas selalu berjalan lancar.

3. 20% biaya hidup

Menurut Hermawan, sebelum bisnis benar-benar sukses (dengan kata lain, sudah kaya raya), orang Tionghoa terbiasa hidup sederhana, yaitu dengan cara menggunakan hanya 20% dari harta kekayaan mereka. Misalnya, bila memiliki harta 100 juta, maka yang digunakan untuk biaya hidup hanya 20 juta saja. Sisanya ditabung atau diinevstasikan.

4. Berani ambil resiko

Pengusaha Tionghoa termasuk berani mengambil resiko. Keyakinan akan Wei chi yang menekankan bahwa selalu ada kesempatan di setiap rintangan, membuat mereka lebih berani mengambil resiko. Kata gagal sepertinya sudah dihapus dari kamus pengusaha Tionghoa.

5. Survei dan belajar

Pengusaha Tionghoa yang akan memulai usaha tak segan untuk bertanya dan belajar kepada siapa pun. Mereka akan melakukan survei ke teman, kerabat atau bahkan orang yang tak dikenal, untuk mendapatkan informasi sebanyak mungkin mengenai usaha yang akan digeluti membuat usaha orang Tioghoa cepat meroket, karena mereka sudah tahu seluk beluknya.

6. Pelayanan terbaik

Ada pepatah Tionghoa yang mengatakan, ‘Jika tak pandai tersenyum jangan membuka toko’. Maksudnya, Anda harus memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan. Tanpa pelayanan yang baik, dijamin pelanggan akan ngacir dan berpindah ke toko sebelah.

7. Memelihara relasi

Pengusaha Tionghoa terkenal pandai menjaga hubungan dengan pelanggannya. Hal sederhana yang acap kali dilakukan adalah memberikan hadiah kepada pelanggan. Meski tak selalu berharga mahal, hal tersebut akan meninggalkan kesan baik bagi pelanggannya, sehingga ingin selalu kembali ke toko tersebut.

***

Sungguh nilai-nilai dan etika yang luar biasa yang baik sekali untuk kita contoh. Sepertinya ga beda jauh dengan apa yang saya pelajari dari leader-leader Oriflame di d’BC Network.

Semoga saja saya bisa selalu konsisten menjalankannya. Amiin YRA

 

 

 

 

Leave a Reply