Kiat Mengatur Waktu Bisnis Dari Rumah

Lagi beres-beres majalah lama, eh ternyata nemu artikel menarik soal kiat mengatur waktu saat menjalankan bisnis dari rumah. Tips yang saya ambil dari Majalah Sekar Edisi 59/11 No 15-29 Juni 2011 ini memang ditujukan untuk pembaca ibu-ibu yang menjalankan usaha di rumahnya agar sukses  menjadi pebisnis rumahan dengan tetap memperhatikan keluarganya.

Cocok banget deh buat saya…heee ūüėÄ

Apa aja tu kiat-kiatnya. Yuk kita simak satu persatu.

  • Cari tau apa tujuannya.

Apa maksudnya kita berwirausaha? Apa konsekuensinya? Ini harus dipikirkan baik-baik sebelum kita menjalankan bisnis. Ketika menghadapi konflik, tujuan yang sudah ditetapkan di awal akan membantu mengatasi masalah tersebut. Kita pun kembali ke jalur yang benar.

  • Berbagi tugas.

Ketika memutuskan beriwirausaha, jangan menanggung sendiri beban pekerjaan rumah tangga. Sebaliknya, ajak suami berbagi tugas dan tanggung jawab mengurus rumah dan anak-anak.

Partisipasi sang ayah sangatlah berarti. Misalnya membantu merawat anak sakit atau menggantikan Anda yang berhalangan hadir ke pembagian rapor di sekolah.

  • Jelaskan alasan Anda berbisnis kepada anak.

Buah hati harus tahu mengapa ibunya terkadang begitu serius di rumah dan butuh waktu sendiri. Kalau tidak anak bisa rewel dan terus menerus memotong alur pekerjaan kita.

Ketika menjelaskan, gunakan bahasa yang mudah dipahami. Ini bukan berarti pekerjaan menjadi prioritas nomor satu. Keluarga tetaplah fokus utama Anda, namun Anda juga butuh waktu untuk menjalankan bisnis.

  • Tetapkan prioritas dan tentukan target.

Agar waktu tidak terbuang percuma, ada baiknya menentukan prioritas apa yang penting buat kita dan  keluarga.

Usahakan semua perencanaan (per hari, per minggu, atau per bulan) dibuat dalam bentuk tertulis. Dengan mencatat semua rencana, tujuan dan prioritas, waktu yang digunakan akan lebih efisien.

  • Miliki ruang kerja sendiri.

Saat menjalankan usaha di rumah, pekerjaan bisa dilakukan dimana saja. Hari ini bisa bekerja di dapur. Keeseokan harinya kita bekerja di ruang tamu. Tahu-tahu tanpa disadari, seluruh ruangan di rumah menjadi kantor Anda. Ini harus dihindari. Pilihlah satu ruangan yang hanya Anda gunakan untuk bekerja.

  • Jaga agar segala sesuatuya tetap sederhana.

Buatlah jadwal dan aturan yang jelas. Berapa banyak waktu yang sebaiknya dialokasikan untuk keluarga, tugas-tugas rumah tangga, dan usaha? Pilihlah waktu bekerja yang memungkinkan kita berpikir dengan jernih. Misalnya di pagi hari.

Hindari bekerja ketika tubuh dan pikiran sedang letih. Keputusan ynag kita buat menyangkut usaha bisa jadi bukan yang terbaik. Buatlah daftar pekerjaan yang harus dilakukan per hari dan per minggu.

  • Biasan rutin.

Ikutilah jadwal yang sudah dibuat dan biasakan diri Anda mengikuti rutinitas tersebut. Apabila tetap berpedoman pada jadwal, usaha Anda bisa berkembang dengan lebih cepat.

  • Bagi tugas besar menjadi tugas-tugas kecil.

Jika harus menyelesaikan sebuah tugas besar, cobalah membagi-baginya menjadi langkah-langkah kecil. Ini akan sangat mempermudah penyelesaiannya dan kita pun bisa menjadi lebih fokus.

Misalnya, mendaftar merek usaha. Kita bisa memulainya dengan pertama-tama mencari nama yang unik, lalu mencari info pendaftaran merek, dst.

  • Janganlah berlama-lama.

Jika menghadapi suatu persoalan, usahakan untuk segera mencari jalan keluarnya. Kalau perlu, minta bantuan pihak lain. Yang juga penting untuk dipertimbangkan, tetaplah tenang. Ketenangan membuat kita bisa berpikir lebih jernih.

  • Tentukan hari kerja dan hari libur Anda.

Gunakan hari libur untuk berfokus pada urusan keluarga dan bekerjalah dengan penuh konsentrasi pada hari kerja.

Langkah ini sangat membantu kita menyeimbangkan urusan rumah dan bisnis. Di hari libur ajaklah keluarga untuk beraktivitas bersama dan jangan pikirkan pekerjaan.

  • Berpura-puralah bekerja di lokasi yang jauh.

Ada banyak sekali godaan yang harus dihadapi ketika bekerja di rumah. Ketika berjalan melewati ruang tamu, tba-tiba muncul ide untuk membereskan perabotan. Sesudahnya Anda ingin mencuci piring. lalu kapan Anda punya waktu untuk mengurus usaha?

Diperlukan disiplin dan komitmen untuk bisa sukses. Kalau memang tidak ada yang benar-benar darurat, berfokuslah pada urusan bisnis saja.

Bayangkan kantor Anda terletak 10km jauhnya dari rumah Anda, kan tidak mungkin bolak-alik hanya untuk mencuci piring atau membereskan perabotan. Jadi tunggulah hingga waktu kerja Anda usai.

  • Libatkan anak.

Dengan cara ini, ia akan merasa dibutuhkan dan memiliki peran. Berikan saja tugas-tugas sederhana untuk si kecil, seperti melipat surat atau merapihkan meja kerja.

Sementara itu si kakak bisa menbantu dengan menjawab panggilan telepon yang masuk. Berikan upah kepada anak-anak sebagai imbalan. Tindakan ini akan membantu anak memahami duinia usaha.

  • Terapkan sistem hadiah

Jika berhasil memenuhi target minggu ini, ajaklah keluarga makan malam di restoran favorit. Ajarkan kepada anak bahwa jika bisa membiarkan ibunya bekerja dengan tenang, di lain waktu Anda dan keluarga bisa pergi makan-makan lagi.

  • Sedaiakan sarana kreativitas.

Jika putra putri Anda punya minat dan bakat tertentu, sedaikan saran suaya mereka bisa menyalurkan kreativitas.

Daftarkan mereka dalam sanggar pengembangan ekspresi, seperti melukis, fotografi, mengarang dan sebagainya. Cara ini membantu anak-anak tidak terlalu kehilangan ibu mereka dan mereka bisa dengan cepat menyerap keterampilan di tempat lain.

Semoga bermanfaat ūüôā

 

 

 

 

 

 

 

Belajar dari Pebisnis Tionghoa

Tulisan ini saya kutip dari artikel berjudul sama di Majalah Pesona edisi Februari 2011. Memang  edisi lama, namun tidak ada istilah basi untuk  berbagi pengetahuan bukan? Apalagi bila kita bisa mengambil pelajaran darinya.

Menurut pakar marketing Hermawan Kertajaya dari Mark Plus, faktor utama kesuksesan orang Tionghoa sebenarnya berawal dari faktor keterpaksaan. Entrepreneursiph itu muncul karena tidak ada jalan lain yang tersedia, sehingga daya juang mereka sangat tinggi karena itulah satu-satunya cara untuk bertahan hidup.

Selain faktor pendorong utama tersebut, Hermawan juga menyebutkan tiga nilai yang dipegang teguh oleh orang Tionghoa, yang ikut mendukung kesuksesan mereka sebagai pebisnis, yaitu:

1. Quang Shi, yaitu hubungan yang sangat erat dalam antar orang-orang Tionghoa. Ketika yang satu terlilit masalah, maka yang lain akan ikut membantu.

Misalnya, saat seorang pengusaha Tionghoa bangkrut dan tak punya modal lagi untuk memulai bisnis baru, pasti akan ada yang bersedia membantu, sekalipun usaha itu berpotensi rugi.

Selama orang yang diberi bantuan berlaku jujur dan tidak berbuat curang, maka teman atau saudaranya akan tetap membantu, meskipun dia sudah 2-3 kali bangkrut. Tapi jika sekali saja dia berbuat curang dan bohong, maka teman-teman dan kerabatnya akan berhenti menolong.

2. Wei-chi, yaitu optimis menghadapi krisis.  Wei artinya bahaya, sementara  chi artinya kesempatan. Jadi setiap kali krisis, ada dua hal yang harus dihadapi, yaitu melepaskan diri dari bahaya dan meraih kesempatan.

Orang Tionghoa selalu berpikir positif dalam menghadapi krisis dengan mengedepankan peluang yang ada dibanding kendalanya. Jadi mereka akan berusaha sekuat tenaga tanpa mengeluh untuk meraih kesempatan itu, sekecil apapun.

3. Mian-Zi artinya muka. Orang Tionghoa memegang prinsip, apapun yang terjadi jangan sampai ‘kehilagan muka’ alias harga diri. Misalnya, ia punya utang dan sudah jatuh tempo. Jika tak punya uang tunai, ia rela menjual asetnya untuk melunasi utang tersebut daripada harus kehilangan harga diri.

Inilah salah satu rahasia orang Tionghoa mudah mendapatkkan utang ketika mengajukan ke bank.

Tujuh Menguak Sukses

Selain ketiga nilai tersebut, masih ada sejumlah sikap dan kedisiplinan yang membuat orang Tionghoa tangguh dan kerap sukses dakam berdagang dan hartanya terus berkembang.

1. Terlibat sejak dini

Di kalangan pebisnis Tionghoa, melibatkan keluarga sejak dini adalah hal biasa, bahkan sejak bisnis berdiri dan anak berusia muda. Misalnya, bila seorang ayah membuka usaha rumah makan, maka anak-anaknya ditugaskan menjadi pelayan, sedangkan istri menjadi kasir. begitu anak-anak beranjak dewasa, mereka sudah menguasai seluk beluk bsinis di luar kepala dan menjalankannya tanpa canggung.

2. Administrasi dan pembukuan yang baik

Administrasi barang dan pembukuan penjualan yang baik adalah kekuatan lain dari para pebisnis Tionghoa. Adminsitrasi barang yang baik membuat stok barang selalu tersedia. Sangat jarang toko yang dijalankan pengusaha Tionghoa kehabisan stok barang. Sedangkan pembukuan yang baik membuat arus kas selalu berjalan lancar.

3. 20% biaya hidup

Menurut Hermawan, sebelum bisnis benar-benar sukses (dengan kata lain, sudah kaya raya), orang Tionghoa terbiasa hidup sederhana, yaitu dengan cara menggunakan hanya 20% dari harta kekayaan mereka. Misalnya, bila memiliki harta 100 juta, maka yang digunakan untuk biaya hidup hanya 20 juta saja. Sisanya ditabung atau diinevstasikan.

4. Berani ambil resiko

Pengusaha Tionghoa termasuk berani mengambil resiko. Keyakinan akan Wei chi yang menekankan bahwa selalu ada kesempatan di setiap rintangan, membuat mereka lebih berani mengambil resiko. Kata gagal sepertinya sudah dihapus dari kamus pengusaha Tionghoa.

5. Survei dan belajar

Pengusaha Tionghoa yang akan memulai usaha tak segan untuk bertanya dan belajar kepada siapa pun. Mereka akan melakukan survei ke teman, kerabat atau bahkan orang yang tak dikenal, untuk mendapatkan informasi sebanyak mungkin mengenai usaha yang akan digeluti membuat usaha orang Tioghoa cepat meroket, karena mereka sudah tahu seluk beluknya.

6. Pelayanan terbaik

Ada pepatah Tionghoa yang mengatakan, ‘Jika tak pandai tersenyum jangan membuka toko’. Maksudnya, Anda harus memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan. Tanpa pelayanan yang baik, dijamin pelanggan akan ngacir dan berpindah ke toko sebelah.

7. Memelihara relasi

Pengusaha Tionghoa terkenal pandai menjaga hubungan dengan pelanggannya. Hal sederhana yang acap kali dilakukan adalah memberikan hadiah kepada pelanggan. Meski tak selalu berharga mahal, hal tersebut akan meninggalkan kesan baik bagi pelanggannya, sehingga ingin selalu kembali ke toko tersebut.

***

Sungguh nilai-nilai dan etika yang luar biasa yang baik sekali untuk kita contoh. Sepertinya ga beda jauh dengan apa yang saya pelajari dari leader-leader Oriflame di d’BC Network.

Semoga saja saya bisa selalu konsisten menjalankannya. Amiin YRA

 

 

 

 

Kiat Sukses Berbisnis Jaringan

bisnis Oriflame bersama dBC NetworkBisnis jaringan atau bisnis multi level marketing bisa mendatangkan keuntungan besar asalkan Anda ‘tahan banting’.

Seorang pelaku bisnis MLM – biasa disebut distributor, atau kalo di Oriflame disebut Independent Beauty Consultant – tak berbeda dengan pemasar di bisnis apapun. Volume penjualan adalah faktor penentu keberhasilan seseorang. Semakin besar pemasar menjual produk, semakin besar pula keuntungannya, dan terbuka lebar kesempatan untuk meraih sukses.

Di bisnis MLM khususnya di Oriflame meraih sukses itu disebut naik level dengan istilah khusus, mulai dari level konsultan 3% – 6% – 9%, level manager 12% – 15% – 18%, senior manager, director, diamond dan seterusnya.

Bagaiman caranya agar bisa mencapai kesuksesan di bisnis MLM, simak tips berikut ini.

Menjalankan sistem dengan benar

Bisnis MLM adalah gabungan dari sistem pemasaran dan pencarian kaki (donwline). Kedua sistem ini harus dilakukan bersama-sama dan berimbang. Tidak bisa seorang pemasar MLM hanya sibuk mencari downline atau menjual produk saja. Hal ini juga yang membedakan MLM dengan sistem piramida yang hanya mementingkan perekrutan.

Bukan Usaha Sampingan

Jika Anda mengenal atau pernah membaca kisah Nadia Meutia dan Dini Shanti, duo founder d’BC Network yang sukses di bisnis MLM Oriflame, maka Anda akan tau bahwa mereka sangat fokus dan serius dalam menjalankan bisnis Oriflame sebagai bisnis utama, bukan usaha sampingan. Bisnis ini memerlukan perencanaan yang matang dan usaha yang gigih.

Kerja Keras

Tidak ada yang dapat mencapai level yang tinggi di bisnis MLM tanpa melalui kerja keras yang luar biasa. Walaupun ada beberapa leader d’BC Network yang sanggup meraih level Senior Manager hanya dalam waktu 3 bulan sejak bergabung, tentu saja hasil kerja keras dalam merekrut dan membina jaringan.

Daya Tahan

Daya tahan dan daya juang seorang pemasar MLM mutlak sangat diperlukan. Tak boleh ada kata malas atau menyerah.

Hal Yang Harus Diperhatikan Sebelum Bergabung

Disamping itu, ada satu hal yang cukup penting untuk Anda ketahui sebelum memutuskan bergabung dengan bisnis MLM. Yaitu pastikan bahwa perusahaan yang Anda ikuti bukan Money Game atau yang menjalankan ‘bisnis’ dengan sistem piramida.

Sebab tak sedikit perusahaan yang ‘berkedok’ MLM, yang awalnya menjanjikan bermacam bonus dan kemudahan sistem penjualan, ternyata tutup di tengah jalan atau tidak jelas jejaknya.

Parameter yang paling mudah untuk mengetahui apakah perusahaan tersebut bonafid atau tidak adalah melalui Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia (APLI). Ini adalah lembaga resmi yang menaungi perusajaan penjualan langsunng, baik multi level maupun single level marketing.

Setiap perusahaan yang bergabung dengan APLI dijamin memiliki legalitas yang kuat, karena pasti memiliki SIUPL (Surat Ijin Penjualan Langsung).

Hal lain yang harus diperhatikan adalah biaya keanggotaan. Perusahaan MLM yang benar menarik biaya secara wajar. Perusahaan-perusahaan MLM yang sudah terbukti sukses dan mampu bertahan hingga belasan tahun di Indonesia mematok biaya keanggotaan dari puluhan ribu hingga ratusan ribu.

Jika ada perusahaan MLM yang menawarkan keanggotaan dengan biaya jutaan atau bahkan puluhan juta, perlu diwaspadai atau dicurigai. Sebab biasanya biaya kenaggotaan MLM hanya sebagai pengganti starter kit yang berisi tata cara bisnis MLM di perusahaan tersebut.

Perusahaan MLM juga hanya membolehkan anggotanya bergabung sekali dengan satu kartu anggota. Sementara sistem piramida membolehkan atau bahkan menyarankan anggotanya untuk bergabung beberapa kali. Istilahnya membeli slot atau titik usaha.

 

#Dari berbagai sumber.

 

 

 

Wujudkan Mimpimu

Saat menerima Majalah Pesona edisi Januari 2012 dan membaca temanya, hati saya langsung tergerak ingin membaginya kepada Anda, khususnya teman-teman seperjuangan di d’BC Network.

Temanya yang bertajuk “wujudkan mimpi” pas banget untuk membangkitkan motivasi bagi saya sebagai pelaku bisnis jaringan atau multi level marketing dalam mencapai tujuan.

Disebutkan dalam artikel bahwa tidak ada batas bagi seseorang untuk bermimpi. Semua orang dengan tidak memandang status sosial, latar belakang budaya, tua dan muda, atau laki dan perempuan, bebas untuk bermimpi.

Saat kita kecil, kita berani menggantungkan mimpi setinggi langit. Bebas berekespresi dan berkhayal tanpa batas sehingga memiliki mimpi yang terkadang tak masuk akal. Namun seiring dengan bertambahnya usia, tanpa disadari kita mulai menakar segala sesuatu dengan logika atau bersikap realistis.

Saat kita menuliskan keinginan untuk menjadi orang kaya atau sukses, maka logika kita langsung menyangkalnya.
“Ahh, mana bisa? Aku bukan keturunan pengusaha, aku ngga punya modal besar, ngga punya koneksi, bukan lulusan perguruan tinggi, cuma ibu rumah tangga. Mustahil jadi orang kaya.”

Tanpa disadari, logika, pengalaman hidup, dan pembelajaran dari lingkungan sering kali membatasi bahkan ‘membunuh’ daya imajinasi dan keberanian kita untuk bermimpi.

Kita tidak mau dibilang ambisius atau pemimpi karena punya angan-angan yang terlalu tinggi. Semakin dewasa kita justru lebih memusingkan apa kata orang ketimbang apa yang betul-betul kita inginkan.

Alhasil, kita lebih terbiasa bersikap realistis (kalau tidak mau dibilang skeptis) dalam mengangankan sesuatu. Bahkan, jika sudah berumur, kita merasa tak perlu lagi bermimpi. “Just let it flow saja,” begitu bahasa kerennya.

Saya jadi teringat pada diri sendiri. Saya baru menyadari belakangan bahwa menganggap semua berjalan seperti air mengalir itulah yang menyebabkan saya mengalami stagnasi bisnis di tahun 2011 yang lalu.

Tapi, seberapa besar kita boleh bermimpi?

Menurut Ellen Johnson Sirleaf, Presiden Liberia pemenang Nobel Perdamaian 2011, pernah berkata, “if your dream do not scare you, they are not big enough.”

Jadi, tetapkan impian setinggi mungkin sehingga kita merasa ‘merinding’ saat memikirkannya. Karena, kalau kita hanya mimpi biasa-biasa saja, maka daya dorongnya pun biasa saja. Tak cukup kuat untuk memompa semangat kita sampai ke tujuan.

Kalau sekarang Anda sudah mempunyai impian, berbahagialah karena ini berarti Anda sudah memulai langkah pertama untuk menjadi orang sukses. Tapi kalau saat ini Anda masih belum punya impian yang jelas, luangkan waktu sejenak untuk merenungkan suatu keinginan kuat yang mungkin sejak kecil Anda idamkan, namun terpendam dalam hati.

Yakinkan diri bahwa jika kita mengucapkan sebuah keinginan dengan hati terdalam, maka hukum alam akan bekerja seperti dalam teori Law of Attraction atau ‘Mestakung (Semesta Mendukung).

Tanpa disadari, kita akan ‘dipertemukan’ dengan orang-orang atau hal-hal yang mendekatkan kita pada impian tersebut. Tapi, tentunya kita tak boleh puas hanya dengan menjadi pemimpi. Karena, setiap mimpi perlu diikuti dengan langkah nyata dan komitemen untuk mewujudkannya.

Sumber bacaan: Majalah Pesona edisi Januari 2012

Bersikap Positif

Saya baru aja nonton video training Fredrik Widell, Oriflame Regional Director South Asia & Managing Director Indonesia. Catatan penting dari video tersebut adalah  perlunya mengembangkan sikap atau perilaku yang positif.

Salah satunya adalah sikap percaya pada diri sendiri.

Percaya pada diri sendiri untuk bisa mencapai tujuan hidup yang dicita-citakan. Percaya diri untuk bisa dan pantas meraih sebuah kesuksesan.

Bangun di pagi hari dan merasa diri yakin menjadi pemenang. Yakin bahwa apapun bisa diraih meski banyak aral melintang. Juga memiliki kebutuhan untuk bisa terus membuktikan diri.

Saya jadi ingat pernah membaca status FB Dini Shanti, co-founder d’BC Network, yang bilang begini:

“Bagaimana orang lain bisa percaya kamu akan sukses jika dirimu sendiri tidak yakin kamu bisa sukses?”

Memang bukan hal yang mudah untuk mengembangkan sikap tersebut tapi bukan pula hal yang tidak mungkin bila dilatih terus menerus secara konsisten.

Gimana carnya?

Mulai dari hal-hal kecil terlebih dahulu. Mulai sekarang juga. Mulai dari diri sendiri. Persis 3M-nya Aa Gym.

Tapi tidak cukup hanya saya sendiri. Saya juga perlu menularkan sikap positif ini ke seluruh jaringan saya.

Kenapa sih perlu banget bersikap positif?

Tentu saja akan terasa manfaatnya  di seluruh aspek kehidupan, baik itu dalam kehidupan pribadi maupun dalam bisnis.

Yang paling saya rasakan adalah saya jadi tidak mudah patah semangat kala menghadapi pelanggan yang rewel, mengalami penolakan, atau bahkan tidak dipedulikan sama sekali oleh prospek maupun downline yang tidak aktif.

Seperti kata Bapak Fredrik Widell, awali hari dengan senyum. Seyum memudahkan Anda berinteraksi dengan orang lain.

Semoga saja saya bisa terus bersikap positif.

Hati-Hati Memilih Bisnis MLM

Salah satu keuntungan menarik yang ditawarkan bisnis MLM (multi level marketing) adalah potensi penghasilan yang angkanya bisa mencapai puluhan bahkan ratusan juta rupiah.

Nadia Meutia dan Dini Shanti duo founder grup d’BC Network yang menjalankan bisnis MLM Oriflame, baru-baru ini berhasil mencapai peringkat Executive Director dan diberikan bonus uang tunai sebesar Rp 128 juta. Jumlah uang yang cukup menggiurkan bukan?

Namun bila kita kurang hati-hati memilih bisnis MLM, kita bisa terjebak dengan bisnis money game yang berkedok MLM. Di Indonesia bisnis jenis ini lebih dikenal dengan bisnis penggandaan uang.

Biasanya bisnis money game hanya mengandalkan perekrutan saja dengan membayar sejumlah dana di awal pendaftaran tanpa ada produk yang dijual.  Ada baiknya kita juga mengenal ciri-ciri seperti apa sih bisnis money game itu untuk menghindarinya.

Silahkan simak uraian Safir Senduk berikut ini :

1. Perusahaan yang mengadakan bisnis itu biasanya mengatakan bahwa bisnisnya adalah bisnis MLM. Penggunaan istilah MLM oleh perusahaan money game biasanya adalah karena mereka tidak ingin bisnis orang jadi malas bergabung jika mereka terang-terangan menyebut nama money game.
Karena itu mereka biasanya menyebut dirinya MLM, walaupun nama mereka tidak tercantum dalam APLI (APLI adalah singkatan dari Asosiasi Penjual Langsung Indonesia, sebuah asosiasi yang salah satu fungsinya adalah menyaring mana perusahaan yang betul-betul berbisnis penjualan langsung, entah itu dengan menggunakan sistem MLM atau tidak).

Kalau nama mereka tercantum dalam APLI, pastilah mereka merupakan Perusahaan MLM yang sejati. Itulah sebabnya, kadang-kadang perusahaan money game seperti itu disebut perusahaan money game yang berkedok MLM.

2. Anda akan diminta membayar sejumlah dana yang cukup besar hanya untuk mendaftar saja. Jumlahnya bervariasi, tapi minimal biasanya sekitar Rp 400 ribuan. Jumlah itu sebetulnya bisa dianggap cukup besar, mengingat Perusahaan MLM yang sejati biasanya hanya meminta biaya pendaftaran yang besarnya biasanya tidak sampai Rp 150 ribuan (itu pun tidak termasuk produk).

Rendahnya biaya pendaftaran pada perusahaan MLM adalah agar semua orang bisa memiliki kesempatan yang sama untuk bisa bergabung. Sedangkan pada perusahaan money game, tingginya biaya pendaftaran yang diminta adalah karena mereka harus membayar bonus penghasilan bagi orang-orang di atas Anda yang sudah lebih dulu bergabung.

Pada Perusahaan MLM sejati, biaya pendaftaran biasanya harus bisa dijangkau, karena bonus penghasilan yang akan dibayarkan hanya akan dibebankan pada produk yang terjual saja, bukan dari biaya pendaftaran.

3. Bisnis money game biasanya tidak memiliki produk untuk dijual kepada konsumen. Padahal ini sebetulnya merupakan faktor kunci dari sebuah bisnis MLM yang sejati. Karena itulah, agar bisa terlihat sebagai sebuah MLM, beberapa perusahaan money game biasanya lalu membuat produk untuk bisa dijual. Namun seringkali yang ada adalah bahwa produk yang dijual tersebut memiliki kualitas dan mutu yang biasa-biasa saja kalau tidak mau disebut asal-asalan.

Pada Perusahaan MLM, harus ada produk yang dijual (entah itu berupa barang atau jasa), dan produk tersebut haruslah memiliki kualitas yang cukup baik agar bisa bersaing di pasar. Faktor produk ini sebetulnya juga merupakan faktor kunci dari sebuah perusahaan untuk bisa disebut sebagai sebuah MLM atau tidak. Kalau bisnis yang ditawarkan kepada Anda tersebut tidak memiliki produk, atau mutu produknya asal-asalan saja, jangan sebut itu sebagai bisnis MLM. Itu jelas money game.

4. Bisnis money game seringkali hanya menguntungkan orang-orang yang pertama bergabung. Sedangkan orang-orang yang bergabung belakangan seringkali cuma ketiban pulung, entah itu perusahaannya bangkrut, lari atau ditutup, atau karena orang yang bergabung belakangan seringkali tidak bisa memiliki penghasilan yang lebih besar daripada orang yang bergabung lebih dulu.
Itulah sebabnya bisnis seperti ini juga disebut bisnis piramid. Kalau di Perusahaan MLM sejati, walaupun Anda bergabung belakangan, Anda bisa punya kesempatan untuk mendapatkan penghasilan yang jauh lebih besar daripada orang-orang di atas Anda yang sudah bergabung lebih dahulu.

Sekarang tinggal keputusan Anda apakah akan bergabung dengan bisnis money game yang ditawarkan kepada Anda atau tidak. Mau ikut pun tidak apa-apa karena di Indonesia belum ada undang-undang yang mengatur tentang bisnis seperti itu. Hanya saja, risiko harus Anda tanggung sendiri.
Selamat memutuskan.

Sumber: www.tabloidnova.com